Aplikasi Buku Keuangan Bendahara / Kas Umum Sekolah v4.00 Siap Cetak
Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Bilal Jum'at

Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Bilal Jum'at

Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Bilal Jum'at

Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Bilal Jumat

Sudah tidak asing lagi dikalangan kita, bahwa saat menjelang khotib naik ke atas mimbar dalam khutbah jum’at, terlebih dahulu ada orang (muraqqi, di Indonesia dikenal dengan istilah Bilal) yang menghimbau para hadirin untuk diam, dan memperhatikan betul- betul apa yang akan disampaikan khotib.

Model himbauannya bervariasi; ada yang menghimbau dengan membacakan sebuah hadits, ada pula yang menampilkan kalimat lain yang bukan hadits.

Di sebagian daerah , ada bilal yang menggunakan susunan kalimat berikut :

يا معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله, روي عن ابي هريرة رضي الله عنه انه قال. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الجمعة سيد الايام وحج الفقراء وعيد المساكين, الخطبتان فيها مقام ركعتين من الفرض, فاذا صعد الخطيب على المنبر فلا يتكلمن احدكم ومن يتكلم فقد لغا ومن لغا فلا جمعت له انصتوا واسمعوا واطيعو رحمكم الله.

Sebenarnya, hadits yang diafiliasikan kepada Abu Hurairah RA Ini bukan murni sabda Nabi Muhammad SAW. Dari sekian sumber yang ada, semuanya menunjukkan hadits ini merupakan gabungan dari beberapa hadits yang diambil sepotong – sepotong dan bukan riwayat Abu Hurairah RA. Dan ada hadits yang di klaim dha’if (lemah) bahkan palsu (maudhu’) oleh sebagian pakar. Untuk lebih jelasnya, mari kita coba analisis hadits diatas.

Pertama :

ان الجمعة سيد الايام

Kalimat ini merupakan penggalan dari hadits berikut :

ان الجمعة سيد الايام واعظمها عند الله من يوم الا ضحى ومن الفطر

Hadits ini terdapat dalam al-Musannaf karya Ibnu Abi Syaibah dalam bab jum’at, juga dalam al-Mu’jam al-Khabir jilid 5 hal.33 no hadits 4511. Ada juga hadits yang susunan kalimatnya tidak sama namun memiliki kemiripan arti, terdapat dalam ad-Durrul-Mantsur karya as-Suyuthi, jilid 8 hal 155.

Jadi, hadits ini bisa dipertanggung-jawabkan keabsahannya, namun bukan berarti boleh diambil sepotong-potong, kemudian diselipkan ke dalam hadits lain. Sebab hal demikian akan mengaburkan kemurnian suatu hadits.

Kedua :

وحج الفقراء

Kalimat ini merupakan potongan dari hadits berikut :

الجمعة حج المساكين

Ada riwayat lain yang menggunakan redaksi demikian :

الجمعة حج الفقراء

Dalam al-Ghummaz ‘alal-Lummaz (hal. 91) dijelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Mu’adz yang diperoleh dari adh-Dhahhak, dimana keduanya dinyatakan sebagai perawi hadits yang lemah. Anda juga bisa menemukan penjelasan senada dalam Muqasshid al-Hasanah karya ash-Shakhawi (hal.178) dan dalam Tamyizuth-Thayyib Mina al-Khabits.

Ketiga :

وعيد المساكين

Teks hadits yang persis seperti ini tidak ditemukan, yang ditemukan adalah kalimat berikut :

يوم الجمعة يوم عيد وذكر

Teks hadits ini terdapat dalam Kasyful Khafa’ (no hadits 3250). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, hadits ini juga terdapat dalam al-Mushannaf (jilid 1 hal. 435) dengan redaksi berikut

ان هذا يوم عيد, فاغتسلوا ومن كان عنده طيب, فلايضره ان يمس منه, وعليكم بالسواك

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaybah.

Keempat :

الخطبتان فيها مقام ركعتين

Memang ada hadits serupa yang bermuara pada kesimpulan senada, yang mengindikasikan bahwa hadits ini secara substansial merupakan cuplikan dari hadits tersebut, hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut :

انما جعلت الخطبة مكان الركعتين, فان لم يدرك الخطبة فليصل اربعا

Hadits ini bukanlah hadits marfu’ (hadits yang diafiliasikan pada Nabi SAW), akan tetapi hadits Mauquf (hadits yang diafiliasikan pada sahabat) , yang di-Mauquf-kan pada Sayyiduna Umar bin KHaththab RA. Hadits ini juga ducantumkan oleh Ibnu Abi Syaybah dalam al-Mushannaf. Jadi tidak benar kalau dikatakan hadits ini dating dari Abu Hurairah RA.

Kelima :

فاذا صعد الخطيب على المنبر فلا يتكلمن احدكم ومن يتكلم فقد لغا ومن لغا فلا جمعت له

Kalimat – kalimat ini sepertinya merupakan potongan dari hadits berikut :

اذا دخل احدكم المسجد والامام على المنبر فلا كلام حتى يفرغ الامام

Dalam Majma’uz Zawa’id dijelaskan, bahwa hadits ini merupakan riwayat Imam ath-Thabarani dari Ibnu Umar. Namun dalam sanad hadits ini terdapat Ayyub bin Nahik yang haditsnya divonis matruk (diabaikan). Yang ada adalah hadits – hadits dengan kalimat yang tidak sama, namun se arti dengan makna yang terkandung dalam hadits اذا صعد seperti hadits shohih berikut :

اذا قلت لصاحبك يوم الجمعة انصت والامام يخطب فقد لغوت

Dan masih banyak lagi hadits senada yang lebih bisa dipertanggung-jawabkan, tapi se arti dengan hadits اذا صعد diatas. (lihat shahih al-Bukhari bab jum’at)

Dari paparan singkat diatas dapat disimpulkan bahwa, hadits yang popular dibaca oleh para bilal itu bukan riwayat Abu-Hurairah RA, bahkan bukan hadits. Karena tidak ada satupun hadits yang membentuk rangkaian seperti itu, namun merupakan kumpulan dari potongan-potongan hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi, yang di antaranya masih diperselisihkan oleh kalangan ulama’.

Selama ini banyak orang tidak menyadari hakikat bacaan bilal tersebut. Mayoritas mereka hanya mengikuti tradisi yang ada. Jadi, tidak benar mengatakan bahwa bacaan bilal diatas merupakan hadits dan disandarkan kepada Abu Hurairah RA. Alangkah celaka kita bila masuk dalam ancaman Nabi Muhammad SAW. Disebabkan membuat kalimat yang tidak pernah beliau sabdakan, kemudian kita sandarkan kepada beliau. Sebab hal ini termasuk berbohong atas nama Nabi Muhammad SAW yang ancamannya adalah neraka.

Dalam hadits dijelaskan : من كذب علي فليتبوء مقعده من النار

Artinya : “orang yang berdusta atasku, maka ambillah tempatnya dari neraka”

Karena itu, sebaiknya kita tidak memperaktekkan bacaan bilal yang tidak jelas sumbernya, sebagaimana dikutip diatas. Sebagai solusi, gunakanlah bacaan bilal sebagai berikut :

يا معاشر المسلمين وزمرة المؤمنين رحمكم الله, روي عن ابي هريرة رضي الله عنه انه قال. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا قلت لصاحبك يوم الجمعة انصت والامام يخطب فقد لغوت.

Hadits yang disebut barusan sudah jelas termasuk dalam deretan hadits – hadits Shahih, karena telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan memang berasal dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW.

Referensi : Buletin Sidogiri edisi 49 R.Tsani 1431

Share On :

Note :
  • Gunakan bahasa ramah lingkungan. Link promo masuk Spam
  • Jika tidak memiliki akun disqus, silahkan login dengan akun media sosial anda.
  • Gunakan parse tool untuk style teks dan kode HTML.
Copyright © | Proudly powered by Blogger
DMCA.com Protection Status