Aplikasi Buku Keuangan Bendahara / Kas Umum Sekolah v4.00 Siap Cetak
Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini

Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini

Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini

Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini

Setelah beberapa hari ini berkutat dengan aplikasi pendidikan, tiba saatnya Nom Ifrod beralih ke artikel berupa ulasan terkait dengan dunia pendidikan utamanya pendidikan anak usia dini (PAUD), baik itu berupa TK ataupun RA, yang saya beri judul "Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini".

Kita tahu bahwa cara belajar anak usia dini tidak sama dengan cara belajar anak ditingkat dasar dan menengah. Berikut Nom Ifrod sajikan beberapa Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini, yang bisa memotivasi anda sebagai guru atau orang tua dalam memahami karakter belajar anak didalam atau diluar sekolah.

Anak belajar secara bertahap

Anak belajar bertahap sesuai dengan kematangan perkembangan berpikirnya. Anak belajar dari mulai segala sesuatu yang konkrit, yang dapat dirasakan oleh inderanya. Anak seorang pembelajar alami dan sangat senang belajar. Anak belajar mulai dengan cara menarik, mendorong, merasakan, mencicipi, menemukan, menggerak-gerakan dengan berbagai cara yang disukainya. Anak belajar sejak lahir dan sesungguhnya anak senang belajar dan mencari pemecahan dari masalah yang dihadapinya.

Cara berpikir anak bersifat khas

Cara anak berpikir berakar dari pengalamannya sehari-hari. Pengalaman yang sangat membantu dan berharga bagi anak didapat dari enam sumber yakni:
  • pengalaman sensory
  • pengalaman berbahasa
  • latar belakang budaya
  • teman sepermainan
  • media masa, dan
  • kegiatan saintis.
Cara anak berpikir tentang dunia sekelilingnya juga mempengaruhi pemahamannya tentang konsep saintis.

Anak cenderung melihat sesuatu berpusat pada dirinya sendiri atau cara memandang kemanusiaan. Misalnya saat bonekanya ditinggal di bangku, anak berkata "tunggu ya disitu jangan nakal." Jadi anak selalu menggunakan sisi kemanusiaan terhadap benda-benda atau kejadian. Seringkali anak menggunakan kata-kata yang makna berbeda dengan makna orang dewasa atau pada umumnya. Misalnya "kemarin aku pergi ke pasar sama ibu." Kata kemarin bukan berarti sebelum hari ini, tetapi bisa jadi minggu lalu, dua hari lalu, atau baru saja terlewati. Hal ini karena konsep waktu pada anak belum cukup matang.

Anak belajar dengan berbagai cara

Anak senang mengamati dan berpikir tentang lingkungannya. Anak termotivasi untuk mengeksplor dunia sekitarnya dengan caranya sendiri. Terkadang cara anak belajar tidak dipahami orang dewasa, sehingga dianggap anak ini sedang bermain tanpa makna atau bahkan sebaliknya ia berbuat sesuatu yang nakal.

Anak belajar satu sama lain dalam lingkungan sosial

Anak terlibat aktif dengan lingkungannya untuk mengembangkan pemahaman mendasar tentang fenomena yang anak amati dan lakukan. Anak juga membangun keterampilan proses saintis yang sangat penting yaitu mengamati, mengklasisikasikan, dan juga mengelompokkan.

Anak belajar banyak pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan sosial-emosional, dan kemampuan lainnya berkembang pesat bila anak diberi kesempatan bersosialisasi dengan teman, benda, alat main, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Anak belajar melalui bermain

Bermain membantu mengembangkan berbagai potensi anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.

Referensi: Pendma Kemenag Pamekasan | IGRA

Share On :

Note :
  • Gunakan bahasa ramah lingkungan. Link promo masuk Spam
  • Jika tidak memiliki akun disqus, silahkan login dengan akun media sosial anda.
  • Gunakan parse tool untuk style teks dan kode HTML.
Copyright © | Proudly powered by Blogger
DMCA.com Protection Status