5 Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini

5 Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini

5 Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini


5 Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini. Pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan saintifik dalam proses bermain. Oleh karena itu penyelenggaraan pembelajaran disajikan dalam suasana menyenangkan sehingga menarik minat anak. Proses penyelenggaraan pembelajaran diupayakan dapat membangun gagasan untuk mengekspresikan kebebasan, imajinasi, dan kreativitas sehingga dapat mengembangkan nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan anak.

Agar pelaksanaan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan diperlukan pedoman pembelajaran sesuai dengan karakteristik anak yang mengacu pada kurikulum PAUD 2013 yang dapat menjadi acuan bagi pendidik di lapangan.

Dalam Kegiatan Pembelajaran pada Pendidikan anak usia dini harus disesuaikan dengan beberapa hal, salah satunya adalah memperhatikan karakteristik cara belajar anak usia dini berikut ini:

1. Anak belajar secara bertahap


Anak belajar bertahap sesuai dengan kematangan perkembangan berpikirnya. Anak belajar dari mulai segala sesuatu yang konkrit, yang dapat dirasakan oleh inderanya. Anak seorang pembelajar alami dan sangat senang belajar (Raffini, 1993). Anak belajar mulai dengan cara menarik, mendorong, merasakan, mencicipi, menemukan, menggerak-gerakan dengan berbagai cara yang disukainya. Anak belajar sejak lahir dan sesungguhnya anak senang belajar dan mencari pemecahan dari masalah yang dihadapinya. (Lind, 1999, p. 79).

2. Cara berpikir anak bersifat khas


Duit and Treagust (1995) menyatakan bahwa cara anak berpikir berakar dari pengalamannya sehari-hari. Cara anak berpikir tentang dunia sekelilingnya juga mempengaruhi pemahamannya tentang konsep saintis. Pengalaman yang sangat membantu dan berharga bagi anak didapat dari enam sumber yakni:

  1. pengalaman sensory,
  2. pengalaman berbahasa,
  3. latar belakang budaya,
  4. teman sepermainan,
  5. media masa, dan
  6. kegiatan saintis.

Anak cenderung melihat sesuatu berpusat pada dirinya sendiri atau cara memandang kemanusiaan. Misalnya saat bonekanya ditinggal di bangku, anak berkata “tunggu ya disitu jangan nakal.” Jadi anak selalu menggunakan sisi kemanusiaan terhadap benda-benda atau kejadian. Seringkali anak menggunakan kata-kata yang makna berbeda dengan makna orang dewasa atau pada umumnya. Misalnya “kemarin aku pergi ke pasar sama ibu.” Kata kemarin bukan berarti sebelum hari ini, tetapi bisa jadi minggu lalu, dua hari lalu, atau baru saja terlewati. Hal ini karena konsep waktu pada anak belum cukup matang.

3. Anak-anak belajar dengan berbagai cara


Anak senang mengamati dan berpikir tentang lingkungannya (Eshach & Fried, 2005; Ramey-Gassert, 1997). Anak termotivasi untuk mengeksplor dunia sekitarnya dengan caranya sendiri (French, 2004). Terkadang cara anak belajar tidak dipahami orang dewasa, sehingga dianggap anak ini sedang bermain tanpa makna atau bahkan sebaliknya ia berbuat sesuatu yang nakal.

4. Anak belajar satu sama lain dalam lingkungan sosial


Anak terlibat aktif dengan lingkungannya untuk mengembangkan pemahaman mendasar tentang fenomena yang anak amati dan lakukan. Anak juga membangun keterampilan proses saintis yang sangat penting yaitu mengamati, mengklasisikasikan, dan juga mengelompokkan. (Eshach & Fried, 2005; Platz, 2004).

Anak belajar banyak pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan sosial-emosional, dan kemampuan lainnya berkembang pesat bila anak diberi kesempatan bersosialisasi dengan teman, benda, alat main, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

5. Anak belajar melalui bermain


Bermain membantu mengembangkan berbagai potensi anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.

Baca juga:

Share On :