Aplikasi Buku Keuangan Bendahara / Kas Umum Sekolah v4.00 Siap Cetak
Tahap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Menurut Para Ahli

Tahap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Menurut Para Ahli

Tahap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Menurut Para Ahli

Tahap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Menurut Para Ahli

Moral berasal dari bahasa latin "mores" yang artinya tata cara, kebiasaan, dan adat. Menurut Hurlock, moralitas adalah kebiasaan yang terbentuk dari standar sosial yang juga dipengaruhi dari luar individu. Moralitas berkaitan dengan sistem kepercayaan, penghargaan, dan ketetapan yang terjadi di bawah sadar tentang tindakan yang benar dan yang salah, dan untuk memastikan individu tersebut akan berusaha berbuat sesuai dengan harapan masyarakat.

Sedangkan menurut Immanuel Kant, moral adalah kesesuaian sikap dan perbuatan kita dengan norma atau hukum batiniah kita, yakni apa yang kita pandang sebagai kewajiban kita. Dapat disimpulkan bahwa moralitas adalah sistem kepercayaan, penghargaan, danketetapan tentang perbuatan benar dan salah yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan dari standar sosial yang dipengaruhi dari luar individu atau sesuai dengan harapan masyarakat atau kelompok sosial tertentu.

Perkembangan moral berkaitan dengan aturan dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal yang mengatur aktivitas seseorang ketika dia tidak terlibat dalam interaksi sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dalam penyelesaian konflik. Pada usia 4-6 tahun anak mulai menyadari dan mengartikan bahwa sesuatu tingkahlaku ada yang baik dan ada yang tidak baik.

Menurut Piaget dalam pengamatan dan wawancara pada anak usia 4-12 tahun menyimpulkan bahwa anak melewati tahap yang berbeda dalam cara berfikir tentang moralitas, yaitu:

1. Tahap moralitas Heteronom. Anak usia 4-7 tahun

Menunjukkan moralitas heteronom, yaitu tahap pertama dari perkembangan moral. Anak berfikir bahwa keadilan dan peraturan adalah properti dunia yang tidak bisa diubah dan dikontrol oleh orang. Anak berfikir bahwa peraturan dibuat oleh orang dewasa dan terdapat pembatasan-pembatasan dalam bertingkah laku.

Pada tahap ini, anak menilai kebenaran atau kebaikan tingkah laku berdasarkan konsekuensinya, bukan niat dari orang yang melakukan. Anak juga percaya bahwa aturan tidak bisa diubah dan diturunkan oleh sebuah otoritas yang berkuasa. Anak berfikir bahwa mereka tidka berhak membuat peraturan sendiri, melainkan dibuatkan aturan oleh orang dewasa. Orang dewasa perlu memberikan kesempatan pada anak untuk membuat peraturan, agar anak menyadari bahwa peraturan berasal dari kesepakatan dan dapat diubah.

2. Tahap moralitas otonomi. Usia 7-10 tahun

Anak berada dalam masa transisi dan menunjukkan sebagian ciri-ciri dari tahap pertama perkembangan moral dan sebagian ciri dari tahap kedua yaitu moralitas otonom. Anak mulai sadar bahwa peraturan dan hukum dibuat oleh manusia, dan ketika menilai sebuah peraturan, anak akan mempertimbangkan niat dan konsekuensinya. Moralitas akan muncul dengan adanya kerjasama atau hubungan timbal balik antara anak dengan lingkungan dimana akan berada.pada masa ini anak percaya bahwa ketika mereka melakukan pelanggaran, maka otomatis akan mendapatkan hukumannya.

Hal ini sering membuat anak merasa khawatir dan takut berbuat salah. Namun ketika anak mulai berfikir secara heteronom, anak mulai menyadari bahwa hukuman terjadi apabila ada bukti dalam melakukan pelanggaran. Piaget yakin bahwa semakin berkembang cara berfikir anak, akan semakin memahami tentang persoalan-persoalan sosial dan bentuk kerjasama yang ada di dalam lingkungan masyarakat.

Selain Piaget, Kohlberg juga menekankan bahwa cara berfikir anak tentang moral berkembang dalam sebuah tahapan. Kohlberg menggambarkan 3 (tiga) tingkatan penalaran tentang moral, dan setiap tingkatannya memiliki 2 (dua) tahapan, yaitu:

3. Moralitas prakonvensional

Pada tingkatan ini, baik dan buruk diinterpretasikan melalui reward (imbalan) dan punishment (hukuman) eksternal. Pada tingkatan ini terdapat dua tahapan, yaitu tahap pertama moralitas heteronom dan tahap kedua individualisme, tujuan instrumental, dan pertukaran. Pada tahap pertama anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman, anak berfikir bahwa mereka harus patuh dan takut pada hukuman.

Moralitas dari suatu tindakan dinilai atas dasar akibat fisiknya. Misalnya dicubit ketika anak bersalah, dan sebagainya. Pada tahap kedua anak berfikir bahwa mementingkan diri sendiri adalah hal yagn benar dan hal ini juga berlaku untuk orang lain. Karena itu, anak berfikir apapun yang mereka lakukan harus mendapatkan imbalan atau pertukaran yang setara. Jika dia berbuat baik, maka orang juga harus berbuat baik terhadap dirinya, anak menyesuaikan terhadap sosial untuk memperoleh penghargaan. Contoh; berbuat benar dan dipuji “benar sekali”.

4. Moralitas konvensional

Pada tingkatan ini individu memberlakukan standar tertentu, tetapi standar ini ditetapkan oleh orang lain, misalnya oleh orang tua atau pemerintah. Moralitas atas dasar persesuaian dengan peraturan untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan baik dengan mereka. Pada tingkatan ini memiliki dua tahapan, yaitu tahap pertama ekspektasi interpersonal, dan tahap kedua moralitas sistem sosial. Pada tahap pertama anak menghargai kepercayaan, perhatian, dan kesetiaan terhadap orang lain sebaga dasar penilaian moral. Seseorang menyesuaikan dengan peraturan untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan baik dengan mereka. Contoh; mengembalikan krayon ke tempat semula sesudah digunakan (nilai moral tanggungjawab).

Pada tahap kedua, penilaian moral didasari oleh pemahaman tentang keteraturan di masyarakat, hukum, keadilan, dan kewajiban. Seseorang yakin bahwa bila kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai bagi seluruh anggota kelompok, maka mereka harus berbuat sesuai dengan peraturan itu agar terhindar dari kamanan dan ketidaksetujuan sosial. Contoh; bersama-sama membersihkan kelas, semua anggota kelompok wajib membawa alat kebersihan (nilai moral=gotong royong).

5. Moralitas pascakonvensional

Pada tingkatan ini seseorang menyadari adanya jalur moral alternatif, dapat memberikan pilihan, dan memutuskan bersama tentang peraturan, dan moralitas didasari pada prinsip-prinsip yang diterima sendiri. Ini mengarah pada moralitas sesungguhnya, tidak perlu disuruh karena merupakan kesadaran dari diri orang tersebut. Tingkatan ini memiliki dua tahap, pertama hak individu, dan tahap kedua prinsip universal. Pada tahap pertama, individu menalar bahwa nilai, hak, dan prinsip lebih utama. Seseorang menyadari perlunya keluwesan dan adanya modifikasi dan perubahan standar moral apabila itu dapat menguntungkan kelompok secara keseluruhan.

Contoh; pada awal tahun ajaran, orang tua diperkenankan menunggu anaknya selama kurang lebih satu minggu, setelah itu anak harus berani ditinggal. Pada tahap kedua seseorang menyesuaikan dengan standar sosial dan cita-cita internal terutama untuk menghindari rasa tidak puas dengan diri sendiri dan bukan menghindari kecaman sosial. Contoh; anak secara sadar merapikan kamar sendiri segera setelah ia bangun tidur dengan harapan agar kamarnya terlihat selalu dalam keadaan rapi.

Nilai-nilai moral yang dapat dikembangkan pada anak usia dini antara lain; (1) kerjasama, (2) bergiliran, (3) disiplin diri, (4) kejujuran, (5) tanggungjawab, (6) bersikap sopan dan berbahasa yang santun. Untuk mengembangkan moral tersebut, dapat dilakukan dengan beberapa strategi melalui berbagai kegiatan belajar yang menyenangkan dan bervariasi. Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan perilaku moral pada anak usia dini yaitu:

  1. Memberi anak kesempatan untuk sharing tentang perasaan dalam lingkungan yang nyaman dan aman.
  2. Mengajarkan hal-hal yang realistik dapat dimengerti oleh anak.
  3. Memberi kesempatan anak untuk berlatih belajar kooperatif dan berbagi tanggungjawab.
  4. Mengundang teman yang berbeda budaya, mengembangkan rasa nasionalisme.
  5. Mengembangkan aturan kelas bersama.
  6. Memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapat, bereksperimen dalam belajar.
  7. Memberi contoh sikap/perilaku yang baik; keingin-tahuan, toleransi, dan lain-lain.

Share On :

Note :
  • Gunakan bahasa ramah lingkungan. Link promo masuk Spam
  • Jika tidak memiliki akun disqus, silahkan login dengan akun media sosial anda.
  • Gunakan parse tool untuk style teks dan kode HTML.
Copyright © | Proudly powered by Blogger
DMCA.com Protection Status