Skip to main content
NOM IFROD

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning (PBL) menurut Arends dalam bukunya yang berjudul Learning to Teach, sering disebut sebagai model Anchored Instruction dan Authentic Learning. Arends selanjutnya memaparkan bahwa model PBL merupakan model pembelajaran yang memberikan berbagai situasi permasalahan kepada siswa dan dapat berfungsi sebagai batu loncatan dalam penyelidikan.

Model PBL menyuguhkan situasi atau berbagai masalah otentik yang mendorong siswa untuk melakukan investigasi dan penyelidikan. Putu Arnyana (2004) mendeskripsikan pembelajaran berbasis masalah tersebut sebagai pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah riil kehidupan yang bersifat tidak tentu, terbuka, dan mendua.

Model pembelajaran ini dilandasi oleh teori konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik. Pada model ini dalam pemerolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, dan bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.

Dalam pemecahan masalah tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Tan (dalam Rusman, 2014), siswa menggunakan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Suatu pembelajaran dikatakan menerapkan model PBL jika pembelajaran tersebut memiliki ciri-ciri sebagaimana dikemukakan oleh Putu Arnyana (2004) sebagai berikut:

  1. terdapat kegiatan mengajukan pertanyaan atau masalah,
  2. pembelajaran terfokus pada keterkaitan antar disiplin,
  3. penyelidikan autentik,
  4. siswa menghasilkan produk berupa karya nyata seperti laporan,
  5. kerjasama, siswa bekerjasama kelompok.

Arends (2004: 406) mengemukakan ada 5 fase (tahap) yang perlu dilakukan untuk mengimplementasikan PBL. Kelima tahap model PBL tersebut secara rinci dapat dilihat pada tabel sintak model PBL di bawah ini:


Sistem sosial dalam model ini antara lain adalah interaksi guru dengan siswa lebih dekat dalam proses teacher-asisted instruction, peran guru sebagai transmitter pengetahuan menjadi berkurang, interaksi sosial makin efektif, dan siswa berlatih menginvestigasi masalah yang kompleks. Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah peranan guru sebagai pembimbing dan negosiator. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan selama proses pendefinisian dan pengklarifikasian masalah.

Sarana pendukung model pembelajaran ini meliputi lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar siswa dan guru, artikel, jurnal, kliping, peralatan demonstrasi atau eksperimen yang sesuai, model analogi, meja dan kursi yang mudah dimobilisasi atau ruang kelas yang telah dikondisikan. Dampak pembelajaran (instructional effect) model PBL adalah pemahaman tentang kaitan pengetahuan dengan dunia nyata, dan bagaimana menggunakan pengetahuan dalam pemecahan masalah kompleks.

Dampak pengiringnya adalah mempercepat pengembangan self-regulated learning, siswa terbentuk kemampuan berpikir kritisnya (Higher Order Thinking Skill), keterampilan sosial dan karakter siswa meningkat, seperti: sikap kerjasama, tangungjawab, peduli, toleran, dan sebagainya. Anda dapat mencermati video contoh penerapan model PBL pada link berikut ini:


Tahapan (sintak) pembelajaran pada video tersebut, semoga bisa memberikan referensi Model Problem Based Learning, dan semoga bermanfaat...

Referensi: Modul 5 KB 1 PPG Daljab 2019

You Might Also Like: