Skip to main content

follow us

Inilah 9 Prinsip Pembelajaran Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah


Inilah 9 Prinsip Pembelajaran Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah. Prinsip pembelajaran adalah hal yang harus ada dan melekat dalam setiap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru bersama anak didiknya. Menerapkan metode atau pendekatan apapun, prinsip pembelajaran harus diperhatikan. Prinsip pembelajaran diterapkan agar proses pendidikan memberikan dampak positif yang mendidik; bukan malah merusak atau mencederai mental, emosi dan martabat kemanusiaan santri (peserta didik / siswa).

Hubungan santri dengan guru harmonis, diliputi ikatan kasih sayang. Dengan demikian proses pendidikan berjalan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Prinsip pembelajaran yang diterapkan pada madrasah diniyah ketika berhadapan dengan santri adalah sebagai berikut:


1. semua hal pada guru adalah berbicara banyak


Bahwa apapun yang melekat dan ada pada diri guru mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki sebenarnya bercerita banyak kepada santri. Namun bukan dengan kata-kata, melainkan dengan bahasa hal (kondisi) yang diterjemahkan oleh santri. Misalnya guru yang memakai baju sesukanya, lusuh dan tidak rapi itu berarti ia sedang mengatakan kepada santri “saya orang yang kacau, jorok, maka kamu boleh mempermainkan saya”.

Oleh karena itu, guru harus menjaga penampilan yang sopan, rapi, bersih, dan sederhana.

2. Nasehat berupa perilaku lebih efektif dari pada berupa ucapan


Kebiasaan guru dalam bersikap dan bertindak sehari-hari, baik berupa ucapan maupun perbuatan lebih terkesan oleh santri dari pada apa yang dinasehatkan. Santri akan lebih memperhatikan tindakan dari pada ucapan guru yang bertentangan dengan tindakan. Jangan salahkan santri jika mereka mengabaikan nasehat guru yang tindakannya berbeda dengan apa yang diucapkan.

3. Anak adalah anak, anak bukahlah orang dewasa dalam bentuk mini


Santri dengan segala karakteristiknya adalah anak yang sedang belajar. Mereka bukan orang dewasa dalam bentuk kecil, maka hindari menilai santri dengan ukuran standar orang dewasa. Kenakalan anak adalah bagian dari perkembangannya. Karena itu pelanggaran, kesalahan kecil dan kenakalan, iseng dan tindakan yang menyebabkan marah harus dimengerti, diterima apa adanya kemudian arahkan kepada yang lebih baik. Tugas guru adlah masuk ke dunia anak, dan membawa dari dunia anak menuju dunia orang dewasa.

4. Hukuman adalah alat yang mendidik


Tidak salah jika guru menggunakan hukuman, namun harus tetap dalam konteks mendidik. Penggunaan hukuman harus diniatkan baik dan dilakukan dengan cara yang baik. Niat baik berarti didorong oleh kasih sayang, menolong dan membantu santri menuju kesadaran, bukan menyakiti.

Dilakukan dengan cara yang baik berarti tidak melampaui aturan syariat. Tidak mencederai kehormatan, kemanusiaan, dan harga diri santri. Hukuman sebagai alat, pastinya mengandung nilai positif dan negatif, mengandung sifat membantu dan merepotkan di sisi lain. Karena itu jika menggunakan cara hukuman, guru harus lebih bijak dan mempertimbangkan dengan benar.

5. Perkembangan santri layak dihargai


Sekecil apapun kemajuan santri layak dan harus diberi penghargaan. Berilah pengakuan atau pujian sebagai penguatan supaya terulang di masa yang akan datang. Penghargaan diberikan dengan cara yang bervariasi; bisa berupa pujian, kata-kata, kalimat, senyuman, tepukan pundak, tepuk tangan, acungan jempol dan sebagainya. Diberikan segera ketika santri tersebut berprestasi, jangan ditunda.

6. Guru dan orang tua santri adalah tim


Yakinkan sejak awal bahwa orangtua / wali santri dan guru diniyah adalah tim dalam membelajarkan anak didik. Kegagalan santri adalah kegagalan guru sekaligus kegagalan orangtua. Karena jika ada perilaku yang menyimpang, susah diatasi, maka libatkan orangtua. Guru dan orangtua bersama-sama dan bekerja sama dalam membimbing santri.

7. Hubungan guru dan santri adalah dunia akhirat


Ikatan guru dan santri tidak hanya di dunia, namun sampai kelak di akhirat. Guru bisa memberi syafa’at kelak di akhirat, begitu juga sebaliknya jika kedudukan santri lebih tinggi menurut Allah SWT. Karena itu harus diciptakan hubungan mahabbah dan kasih sayang yang kuat, saling membantu dan menolong dalam kebaikan secara bersama-sama menuju ridla Allah SWT.

8. Ilmu yang disampaikan dari hati akan diterima dengan hati


Apapun yang disampaikan guru harus dipertimbangkan dengan hati nurani, semua tindakan ditenagai oleh rasa keikhlasan. Sehingga  bernilai baik dan dapat diterima oleh hati peserta didik. Emosi santri akan tersentuh dan akan menimbulkan kesadaran untuk selanjutnya merubah perilaku santri menjadi lebih baik. Hindari mengatakan atau bertindak yang hanya didorong oleh kesenangan nafsu, ingin dipuji, emosi, marah, dan niat riya lainnya.

9. Seseorang cenderung tertarik terhadap hal yang berkaitan dengan dirinya


Dalam memberikan materi pembelajaran, guru harus mengusahakan kontekstual, sesuaikan dengan kehidupan dan kebutuhan santri. Contoh-contoh yang ditampilkan sesuai dengan kehidupan santri, semua materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan santri sehari-hari, sehingga lebih bermakna bagi santri dalam menghadapi kehidupannya. Baik kehidupan sekarang maupun kelak di masyarakat. Bahkan dikaitkan dengan kebutuhan santri kelak di akhirat.

Itulah 9 prinsip pembelajaran madrasah diniyah. Semoga bisa memberikan motivasi, referensi, dan bermanfaat untuk kita semua. Amin...
Buka Komentar